Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 13 Mei 2014

Softskill - Profesi IT Design Grafis

Nama Kelompok :

4KA07
Dede Yusuf                           (11110743)
Johannes Kevin                   (19110577)
M. Aulia Rahman                 (19110297)
Nurkhamid Mustaufa          (15110177)
  

Apa itu desain grafis
Desain Grafis berasal dari 2 buah kata yaitu Desain dan Grafis, kata Desain berarti proses atau perbuatan dengan mengatur segala sesuatu sebelum bertindak atau merancang. Sedangkan Grafis adalah titik atau garis yang berhubungan dengan cetak mencetak. Jadi dengan demikian Desain Grafis adalah kombinasi kompleks antara kata-kata, gambar, angka, grafik, foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-elemen ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus atau sangat berguna dalam bidang gambar.
Desain Grafis adalah cabang ilmu dari seni Desain yang dalam perkembangannya Desain Grafis dibantu oleh komputer dalam mendesain sebuah object.
Desain biasa diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata “desain” bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, “desain” memiliki arti “proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru”. Sebagai kata benda, “desain” digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata.


Hanny Kardinata


Di masa lalu, mimpi atau cita-cita untuk menjadi desainer grafis, masih jarang ditemui pada anak muda Indonesia. Kala itu, profesi desain grafis hanya dikenal sebatas seni grafis, tidak seperti sekarang yang telah menjamur. Saat ini, institusi pendidikan formal maupun informal banyak membuka jurusan desain grafis/desain komunikasi visual, mulai dari fakultas seni dan desain hingga fakultas ilmu komputer/teknologi informasi. Tak hanya itu, pengetahuan dan informasi tentang desain grafis juga dapat dipelajari secara otodidak melalui internet, baik secara teknis digital, maupun sejarah karya, seperti pada website Desain Grafis Indonesiawww.dgi-indonesia.com.Namun seberapa jauh kita mengenal dunia desain grafis? Sudahkah kita mengetahui sejarah perkembangan desain grafis di Indonesia berikut dengan sepak terjang perjuangan para tokohnya dalam mewujudkan profesi desain grafis agar diterima oleh masyarakat? Berikut ini adalah secuplik kisah tentang Hanny Kardinata, salah satu tokoh senior desain grafis indonesia yang sudah puluhan tahun berkiprah dan berkarya di dunia desain grafis. Beliau merupakan penemu teknik dry brush, founder website Desain Grafis Indonesia (DGI), dan penulis sejarah desain grafis. Salah satu mimpi beliau saat ini adalah terwujudnya Museum Desain Grafis Indonesia kelak di masa depan.
Bakat, Pendidikan, dan Karir
“Awal yang sederhana bisa membawa manfaat yang lebih besar bila dijalani dengan tekun dan konsisten,” kata Hanny. Inilah yang mengawali langkah beliau dalam mengenal dunia seni, khususnya desain grafis.Sedari kecil, Hanny sangat menyenangi kegiatan menggambar. Hal ini merupakan bakat yang diwarisi dari ayahnya. Tak hanya itu, menurut ibunya, Hanny kecil lebih suka menggambar di meja kamar dibanding menghabiskan waktu bermain dengan memanjat pohon, menaiki atap rumah, ataupun bermain layang-layang seperti saudara-saudaranya. Semenjak SMP, beliau juga suka membuat komik bersambung yang kemudian dibaca secara bergiliran oleh teman-teman di sekolah. Selepas SMA, di antara teman-teman sekolahnya saat itu, Hanny satu-satunya yang melanjutkan ke pendidikan seni rupa.Laiknya ikan yang baru bertemu dengan air, Hanny merasa telah memilih jurusan yang tepat. Bagi Hanny, masa kuliah menjadi masa yang jauh lebih menyenangkan daripada masa SMA. Keputusan melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Asri, Yogyakarta di tahun 1972 adalah pilihan hidupnya. Selesai studi, Hanny bekerja dan berkarya di agensi periklanan Matari, Jakarta (1976–1983). Inilah momentum awal saat Hanny bertemu dengan beberapa orang hebat: seniman, budayawan, sejarahwan, dsb.Saat mulai bekerja, beliau yang merupakan desainer grafis angkatan ’70, masih dituntut menghasilkan segala jenis karya grafis, mulai dari ilustrasi hingga logo, poster, dan buku. Sampai periode 1980-an, hal ini beliau lakukan sendiri, mulai dari merancang konsep hingga mengeksekusinya. Setelah itu, hingga pertengahan 1990-an, beliau lebih banyak memikirkan konsep. Pekerjaan eksekusi  lantas diambil alih oleh para asisten di biro grafis Citra Indonesia. Setelah bertahun-tahun berkarya dalam tim, pertengahan tahun 1990-an hingga 2000-an, Hanny kembali mengerjakan semuanya sendiri, ketika muncul perasaan tidak lagi memiliki karya yang murni dikerjakan sendiri (dari konsep hingga hasil akhirnya).

Ciri Khas dan Inspirasi Berkarya


Seperti halnya seniman maupun desainer lainnya yang memiliki style/ciri khas masing-masing, teknik dry brush (kuas kering) merupakan sebuah teknik yang Hanny temukan sendiri saat masih studi di STSRI Asri.Selain menemukan teknik dry brush, beliau juga aktif membuat berbagai karya dan sering menerima penghargaan. Dari berbagai kumpulan karya yang pernah dihasilkan, poster “Buatan Indonesia. Mengapa Tidak?” yang dibuat pada tahun 1987, merupakan salah satu karya yang sangat berkesan menurutnya. Poster ini terpilih sebagai juara pertama lomba poster yang diadakan oleh Kementerian UP3DN (Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri), ITB (Institut Teknologi Bandung), dan P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), serta diikuti oleh ratusan desainer grafis yang kala itu, hadiahnya merupakan yang terbesar.Karya ini memiliki kesan tersendiri bagi beliau, karena pada awalnya, Hanny justru tidak pernah berniat mengikuti lomba ini. “Ceritanya, hampir semua desainer di biro grafis saya mengikuti lomba tersebut. Salah seorang darinya, menunjukkan sketsa-sketsanya kepada saya agar mendapat masukan. Setelah memberikan beberapa komentar, untuk beberapa saat lamanya pikiran saya jadi terus terfokus untuk memikirkan solusi-solusi yang lebih baik. Akhirnya saya juga membuat beberapa sketsa, yang kemudian saya berikan kepada asisten desainer untuk dia eksekusi atas namanya. Tapi hingga beberapa hari menjelang waktu penutupan lomba, saya lihat dia masih asyik mengerjakan karyanya sendiri. Sketsa saya minta kembali dan saya kerjakan sendiri di rumah. Dan ternyata kemudian karya itu menang!” tutur beliau pada percakapan melalui surat elektronik.Sedangkan hasil karya yang paling disukai adalah “Ilustrasi Guruh Sukarnoputra” yang merupakan hasil pesanan Guruh untuk materi promosi pergelaran perdana Swara Mahardhika (poster, sampul kaset, dsb.) di tahun 1979. Bentuk materi promosi yang berukuran besar, membuat Hanny mau tak mau mengerjakannya bergantian di meja gambar dan di lantai. Di meja gambar untuk detailnya, sementara di lantai untuk mengontrol ‘irama musik’ yang diharapkan muncul pada ilustrasi ini. Seluruhnya Hanny kerjakan dengan teknik dry brush. Hal ini tentu berbeda kondisinya dengan saat ini, di mana dengan mudah materi promosi berukuran besar dapat dibuat dengan percetakan digital.Saat ditanyakan apa yang menjadi inspirasinya dalam berkarya, buku-buku yang sering dibaca, baik itu tentang desain, seni, budaya, filsafat, psikologi, sastra, musik, juga komik, cerita silat secara tidak langsung turut memengaruhinya dalam berkarya.

Idealisme dan Cita-Cita
Periode 2000-an, merupakan titik tolak terpenting di mana saat itu kondisi penglihatan Hanny mulai menurun hingga kini. Sejak saat itulah, Hanny tidak bisa lagi membuat ilustrasi yang membutuhkan sentuhan detail pada pengerjaannya, terutama jika menggunakan teknik dry brush. Pada waktu yang sama, teknologi blog mulai populer di Indonesia. Banyaknya waktu senggang memunculkan keinginan untuk mengumpulkan catatan-catatan mengenai desain grafis Indonesia yang kelak hendak dirangkai menjadi sebuah buku. Menurut Hanny, sejarah dianggap penting dalam upaya untuk mengetahui evolusi ide dan nilai sebuah bidang keilmuan seperti yang dikemukakannya, “Jangan lupa membaca sejarah, siapa tahu apa yang kita hasilkan dan kita anggap sebagai inovasi itu sebetulnya sudah ada yang membuat di masa lampau. Sejarah desain grafis adalah perjalanan evolusi ide-ide atau nilai-nilai.”
Berangkat dari impian itu, Hanny mulai mengetik ulang kliping-kliping mengenai desain grafis Indonesia yang selama ini telah dikumpulkan sejak tahun 1980–1990-an. Satu persatu, tulisan itu diterbitkan di sebuah blog yang diberi nama Desain Grafis Indonesia (DGI). Tanggal 13 Maret 2007 adalah momentum awal kelahiran situs DGI. Diharapkan kelak nantinya situs ini menjadi pusat data sejarah dan perkembangan desain grafis Indonesia yang berfungsi menyebarkan informasi ke seluruh Indonesia, bahkan dunia dalam lingkup yang lebih luas.
Setelah lima tahun DGI mengudara, tepatnya di tahun 2012, beliau memulai penulisan buku “Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia” yang rutin dikerjakan hingga sekarang, sambil mencari jalan untuk menerbitkannya sendiri. “Kalau ini bisa diterbitkan pada tahun depan, maka sebagian cita-cita saya akan terwujud, yaitu memiliki Sejarah Desain Grafis Indonesia,” cetusnya
Tak hanya itu, demi kelangsungan siklus keilmuan dan keberlanjutan DGI, regenerasi kepengurusan DGI pun sudah beliau pikirkan. Oleh sebab itu, sekitar Agustus 2013, Hanny bertemu Ismiaji Cahyono dan istrinya, Citra Lestari, agar kelak melanjutkan DGI. Rumah sekaligus studio yang berdekatan dengan tempat tinggal Hanny memudahkan proses komunikasi di antara mereka. Selanjutnya rencana mendirikan DGI Press juga dimatangkan, di mana Henricus Kusbiantoro turut merancang logonya. Tepat pada 25 Oktober 2013, DGI Press resmi terdaftar sebagai penerbit di Perpustakaan Nasional. Buku perdana DGI Press karya Vincent Hadi Wijaya yang berjudul “Perspektif: 19 Desainer Grafis Muda Indonesia”, merupakan publikasi pertama dari DGI Press yang mengangkat wacana desain grafis melalui pemikiran 19 desainer grafis muda Indonesia.
Ketika pusat data, dokumentasi, dan literatur tentang desain grafis Indonesia kini sudah terealisasi, dan buku tentang sejarah desain grafis sedang dalam proses penyusunan untuk kelak dapat diterbitkan, masih adakah mimpi yang belum teraih? Museum Desain Grafis Indonesia (MDGI) adalah jawabannya. “Lahan yang semula direncanakan untuk MDGI yaitu Chandari di daerah Ciganjur, ternyata tidak bisa dibangun, karena berada di daerah resapan air DKI Jakarta. Padahal ke depannya kelak diharapkan dokumentasi karya, tulisan, dan literatur dapat juga berwujud secara fisik,” ungkap beliau.
Ada satu pesan khusus bagi generasi kreatif Indonesia dari beliau, “Berbuat baiklah selalu bagi negeri kita ini.”

Profil Beliau
Nama Lengkap: Hanny Kardinata
Tempat/Tanggal lahir: Surabaya, 7 Januari 1953
Pekerjaan: Desainer grafis, penulis sejarah desain grafis
Latar Belakang Pendidikan:
1972-1975: Studied Graphic Design at ASRI, now ISI (The Art Institute of Indonesia), Yogyakarta.
 Penghargaan:
1987: “Creativity Award” from Creativity International Awards, New York, USA, for The Parrots (club & restaurant) logotype design and is published in Creativity 1987.
1987: First prize from a poster design competition held by Kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Dalam Negeri (UP3DN) cooperated with Bandung Institute of Technology (ITB) and Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I): Buatan Indonesia. Mengapa Tidak?
1992: “Creativity Award” from Creativity International Awards, New York, USA, for Citra Indonesia calendar design and is published in Creativity 1992.
1992: Certificate from Interecho Press (Paul Ibou, president) for the superior standard of Transindo logo design and is included in the collection of the the International Trademark Center and in the worlwide distribution publication Interecho Press, Belgium-Europe.
2008: “Anugerah Samartharupa” from DKV Binus University for dedication to the development of graphic design in Indonesia, especially in education.

Pengalaman Profesional:
1976-1977: Graphic designer of Matari Advertising (advertising agency), Jakarta.
1977-1980: Freelance graphic designer/illustrator.
1980: Establishes Citra Indonesia (graphic design company), Jakarta.
1980-1994: Art director of Citra Indonesia, Jakarta.
1989-2009: Graphic design consultant of LARAS (interior & architecture magazine), Jakarta.
1999-2005: Graphic design consultant of Machu Picchu (foreign investment company in the field of outdoor fashion industry whose products are exported to European market), Jakarta.
2007-now: Founder/Chairman of DGI (Desain Grafis Indonesia) – a collaborative site focused on the History of Graphic Design in Indonesia as an integral part of international graphic design, Jakarta.
2008-2009: Chairman of VERSUS, a critical and provocative magazine for creative people, Jakarta.
2008-now: Chairman of Museum (to be) DGI (Desain Grafis Indonesia) at Desa Kreatif Chandari, Ciganjur, Jakarta.
2009-now: Chairman of Indonesia Graphic Design Award (IGDA), Jakarta.
2013: Kurator RBDI (Reka Baru Desain Indonesia) 2013, kategori Desain Komunikasi Visual (DKV) yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf.

Pameran:
1980: Graphic design exhibition helds with 2 other graphic designers at Erasmus Huis, Jakarta (Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit).
1980-1989: Organizing (also participate on) several exhibitions with IPGI (Indonesia Graphic Designer Association) and JAGDA (Japan Graphic Designer Association).

Aktivitas lainnya:
1992: Jury of Indonesia Design & Print Competition held by Arjo Wiggins/Conqueror (paper company).
1994: Jury of Indonesia Design & Print Competition held by Arjo Wiggins/Conqueror (paper company).
1996: Jury of SCOPA 95 – Indonesia Design & Print Competition held by Surya Palacejaya (paper company).
1999-….: Contributing editor of: output (Biggest International Student Design Award and Worldwide Student Design Yearbook), a project of : output foundation, Amsterdam.
2002-2003: Jury of Logo Design Competition for Museum Nasional, Indonesia.
2003: Jury of SCOPA 2003 – Indonesia Design Competition held by Surya Palacejaya (paper company).
2003: Jury of Adikarya Desain Indonesia 2003 – Indonesia Design Competition held by Media Network Indonesia and BuBu Internet.
2006: Jury of Ide Awards: “Indonesia Nationalism in Visual Communication” held by Adgi (Indonesia Design Professionals Association) and Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
2007-now: Founder of DGI (Desain Grafis Indonesia): a collaborative site focused on the History of Graphic Design in Indonesia as an integral part of the international graphic design collective heritage.
2007: Jury of cover design competition “1001 Cover Concept” held by Concept Magazine, Jakarta.
2008: Jury of poster design competition “DEEP Indonesia 2008″ Digital Poster Design Competition held by PT Exhibition Network Indonesia, Coremap II and FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia) as the co-organizer, Jakarta.
2009: Jury of poster design competition “DEEP Indonesia 2009″ Digital Poster Design Exhibition held by PT Exhibition Network Indonesia, Coremap II and FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia) as the co-organizer, Jakarta.
2009: Jury of poster design competition IPDA (Indonesia Printer Design Award) 2009, Jakarta.
2009: Jury of Pinasthika Advertising Festival 2009, Jakarta.
2009: Jury of poster design competition “Kampanye Melek Asuransi 2009″.
2010: Jury of logo design competition “Jakarta 483th”.
2010: Jury head of IGDA (Indonesia Graphic Design Award) 2009.
2011: Jury of TUAI 2010.
2011: Jury head of KPU (Komisi Pemilihan Umum) poster and flyer design competition.
2011/2012: Jury head of SCOPA Award (2012).
2013: Juri Lomba Maskot KPU (Komisi Pemilihan Umum) untuk Pemilu 2014.


0 komentar:

Posting Komentar